![]() |
| (Sumber foto : muslim.or.id) |
Assalamualaikum wr wab kawan-kawan semua.
Siapa sih yang pada saat shalat berjamaan di Masjid sering mencium bau yang
kurang sedap atau bahkan bau minyak wangi yang sangat menyengat dari jamaah
lain? Pasti semua pernah mengalami pengalaman ini.
Apalagi di bulan Ramadhan ini, sering kali pada saat Tarawih kita mencium
berbagai aroma makanan yang sangat menyengat, seperti bawang, daging kambing,
bahkan obat salep atau minyak yang baunya sangat menyengat. Dan Kebetulan
peristiwa ini juga dialami oleh beberapa jamaah masjid yang merasa kurang
nyaman dengan bau salah satu jamaah yang menyengat seperti obat amoxilin. Nah tentunya
hal ini bisa membuat ibadah kita kurang khusyu karena merasa tidak nyaman.
Nah kemarin buka-buka situs dari muslim.or.id dan ternyata saya menemukan
sebuah artikel yang cukup bermanfaat. Yaitu tentang hukum sholat berjamaah bila
di dalam diri seseorang terdapat bau yang kurang sedap..
Berikut artikel yang saya dapatkan dari muslim.or.id
Sadarilah Bau Badanmu Sebelum Pergi Shalat
Berjamaah
Sangat penting
memperhatikan aroma tubuh ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bisa jadi
seseorang tidak sadar bahwa tubuhnya mengeluarkan aroma yang tidak sedap, akan
tetapi orang di sekitarnya merasakan aroma tersebut, misalnya bau keringat, bau
pakaian atau bau ketiaknya. Bisa juga aroma tidak sedap itu berasal dari bau
mulutnya, terutama jika ia adalah seorang perokok. Tentu hal ini sangat
menganggu orang yang shalat berjamaah karena posisi shaf saat shalat sangat
berdekatan bahkan sampai menempel.
Jika bau tubuh yang
tidak sedap itu tercium tentu akan menganggu jamaah yang lain. Bisa jadi ada
orang yang sensitif dengan bau-bau tertentu, ia bisa merasa mual bahkan pusing
karena tidak nyaman dengan bau yang tidak sedap. Hal ini akan menganggu konsentrasi
dan kekhusyukan para jamaah saat melaksanakan shalat, padahal khusyuk dan tumakninah (tenang)
dalam shalat termasuk rukun shalat. Jika tidak ada keduanya maka shalatnya
tidak sah.
Larangan Shalat Berjamaah Karena Bau Badan yang
Tidak Sedap
Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam melarang orang yang pada dirinya ada aroma tidak
sedap untuk menghadiri shalat berjamaah, hal ini termasuk uzur tidak shalat
berjamaah.
Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَكَلَ مِنْ هَذِهِ,
الْبَقْلَةِ، الثّومِ (وَقَالَ مَرّةً: مَنْ أَكَلَ الْبَصَلَ وَالثّومَ
وَالْكُرّاثَ) فَلاَ يَقْرَبَنّ مَسْجِدَنَا، فَإِنّ الْمَلاَئِكَةَ تَتَأَذّى
مِمّا يَتَأَذّى مِنْهُ بَنُو آدَمَ”. (رواه مسلم)
“Barangsiapa yang
memakan biji-bijian ini, yakni bawang putih (suatu kali beliau mengatakan,
“Barangsiapa yang memakan bawang merah, bawang putih dan kurrats -sejenis daun
bawang-), maka janganlah ia mendekati masjid kami, sebab malaikat merasa
terganggu dengan hal (bau) yang membuat manusia terganggu.”[1]
Perhatikahm Bau Mulut Anda Wahai Para Perokok
Mohon diperhatikan
khususnya bagi para perokok, dalam hadis di atas dijelaskan bahwa orang yang
mulutnya bau karena memakan bawang putih saja tidak boleh menghadiri shalat
berjamaah, maka bagaimana lagi dengan orang yang mulutnya bau rokok? Semoga
kaum muslimin bisa meninggalkan benda yang sangat merugikan ini.
Boleh Meninggalkan Shalat Berjamaah Untuk
Sementara Waktu
Hukumnya wajib
meninggalkan shalat berjamaah untuk sementara waktu bagi seseorang yang pada
tubuhnya ada aroma tidak sedap, mencakup semua bau menyengat dan tidak sedap
pada mulut, hidung atau ketiak. Setelah bau tersebut hilang maka dia wajib
untuk kembali shalat berjamaah di masjid.
Ibnu Hajar
Al-Asqalani menjelaskan bahwa bau bawang itu hanya contoh saja. Bau yang dimaksud adalah semua bau yang
menyengat dan tidak sedap. Beliau berkata
وقال ابن حجر : وقد ألْحَقَ
بها الفقهاء ما في معناها من البقول الكريهة الرائحة ، كالفجل
“Para ulama ahli
fikih menyamakan hal ini kepada sesuatu yang semakna dengannya (bawang) seperti
sayuran (polongan) dan lobak yang menyengat.”[2]
Al-Maziriy juga
menjelaskan bahwa hal ini mencakup bau keringat, bau-bau karena pekerjaan dan
sebagainya. Beliau berkata,
قال المازري : وألْحَق الفقهاء
بالروائح أصحاب المصانِع : كالقصّاب والسَّمّاك . نقله ابن الملقِّن .
“Para ulama ahli
fikih menyamakannya dengan bau para pekerja pabrik seperti tukang giling daging
dan tukang ikan.”[3]
Bau Tidak Sedap yang Timbul Dari Penyakit
Syaikh Muhammad bin
Shalih Al-’Utsaimin menjelaskan bahwa termasuk juga apabila bau menyengat tersebut
muncul akibat penyakit (misalnya terkena penyakit mulut yang sangat bau atau
penyakit badan yang anggota tubuhnya ada yang membusuk), maka tidak boleh
menghadiri shalat berjamaah sampai penyakitnya sembuh. Beliau berkata,
قال العلماء : إن ما كان من
الله ، ولا صنع للآدمي فيه إذا كان يؤذي المصلين فإنه يَخرج ( يعني من المسجد ) ،
كالبخر في الفم ، أو الأنف ، أو من يخرج من إبطيه رائحة كريهة ، فإذا كان فيك
رائحة تؤذي فلا تقرب المسجد.
“Para ulama
berkata, jika penyakit tersebut dari Allah dan bukan karena perbuatan manusia,
apabila berpotensi menggangu orang yang salat maka sebaiknya ia keluar dari
masjid (tidak ikut salat berjamaah), seperti bau pada uap mulut (bau mulut),
bau hidung atau apa yang keluar dari ketiaknya berupa bau yang menyengat. Maka
jika pada mulut anda terdapat bau yang dapat menganggu maka jangalah anda
mendekati masjid (jangan ikut salat berjamaah).”[4]
Secara umum, jika
memang ada penyakit yang bisa menghalangi salat berjamaah, maka ia mendapat
uzur untuk tidak menghadiri salat jamaah.
Syaikh Abdul Aziz
bin Baz rahimahullah ditanya mengenai hal ini, beliau
menjawab,
نعم هذا عذر شرعي ، إذا كان فيه بخر شديد الرائحة الكريهة ولم يتيسر له ما
يزيله فهو عذر ، كما أن البصل والكراث عذر ، أما إن وجد دواءً وحيلة تزيله فعليه
أن يفعل ذلك حتى لا يتأخر عن صلاة الجمعة والجماعة ، ولكن متى عجز عن ذلك ولم
يتيسر فهو معذور أشد من عذر صاحب البصل ، والبخر لا شك أنه مؤذٍ لمن حوله ، إذا
كان رائحته ظاهرة
“Ya, ini adalah
uzur menurut syariat. Jika pada mulutnya terdapat bau yang sangat menyengat dan
tidak mudah baginya untuk menghilangkannya maka ini merupakan uzur, sebagaimana
bawang putih dan kurrats (sejenis daun bawang) adalah uzur.
Akan tetapi jika didapatkan obat dan cara untuk menghilangkannya maka wajib ia
lakukan agar tidak tertinggal shalat Jumat dan salah berjamaah. Akan tetapi
kapan saja ia tidak mampu dan tidak mudah baginya maka ia mendapatkan uzur yang
lebih daripada mereka yang makan bawang putih. Bau mulut tidak diragukan lagi
akan menganggu orang di sekitarnya jika baunya jelas.”[6]
Mari kita
perhatikan aroma tubuh kita ketika akan menghadiri shalat berjamaah. Bagi
laki-laki disunahkan memakai parfum dan wewangian yang sewajarnya.
Penulis: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslim.or.id
Artikel Muslim.or.id
Catatan Kaki:
[1] HR.Muslim
[2] Fathul Bari 14/364, syamilah
[3] Dinukil dari: http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/omdah/114.htm
[4] Syarhul Mumti’ 5/86, Daru Ibnul Jauzi, cet. I, 1422 H, syamilah
[5] Nurun Alad Darb, kaset 219,Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/16416
[2] Fathul Bari 14/364, syamilah
[3] Dinukil dari: http://www.saaid.net/Doat/assuhaim/omdah/114.htm
[4] Syarhul Mumti’ 5/86, Daru Ibnul Jauzi, cet. I, 1422 H, syamilah
[5] Nurun Alad Darb, kaset 219,Sumber: www.binbaz.org.sa/mat/16416

0 komentar:
Posting Komentar