| (dokumen pribadi) |
Bulan Ramadhan di Kabupaten Gunungkidul rasanya tidak
lengkap tanpa Festival Nuzulul Quran (FNQ) Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari ini.
Festival yang diadakan setiap tahunya pada pertengahan Bulan Ramadhan ini
selalu menarik animo masyarakat. Dengan berbagai inovasi dan perkembangan dari
berbagai cabang lomba, antusiasme masyarakatpun juga semakin semarak.
Tahun ini Panitia Kegiatan Bulan Ramadhan (PKBR)
masjid Agung Al Ikhlas membuka 32 cabang lomba untuk diperlombakan. FNQ 1438
inipun mengusung tema Al Quran sebagai Pedoman Hidupku.
Sebagai festival Ramadhan terbesar tingkat Kabupaten Gunungkidul, tetunya acara
ini diikuti oleh santri dari hampir seluruh kecamatan di Gunungkidul. Dari mulai
daerah pesisir Selatan, Timur, Barat dan wilayah pegunungan di daerah Utara,
semua berpartisipasi untuk meraih kemenangan.
Semua peserta tentunya berharap untuk menang. Namun
kemenangan tersebut hanya diraih oleh segelintir orang dengan simbol piala,
samir dan piagam penghargaan. Bagi mereka yang belum beruntung, tentu rasa
kecewa dan sedih pasti ada. Di sisi inilah peran orang dewasa sangat penting
dalam pendampingan anak.
Bagi anak yang merasa kecewa dan sedih karena belum
mendapatkan gelar juara, tentunya hiburan sangat diperlukan. Motivasi dari
orang sekitar juga harus diberikan untuk mendorong anak agar terus berkarya.
Anak harus diyakinkan bahwa juara bukan segala-galanya. Pengalaman justru lebih
berharga dari sekedar piala. Melalui pengalaman anak mampu belajar dan terus
belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Seperti bila anak baru pertama kalinya mengikuti lomba
diusianya masih usia TK (5-7 tahun), pastinya ada rasa kekhawatiran di dalam
diri anak. Entah rasa kurang percaya diri, merasa takut bila tidak didampingi,
atau takut bertemu orang-orang baru di keramaian. Dengan mengikuti perlombaan
ini, si anak sudah belajar untuk mampu berkompetisi, berinteraksi dengan
lingkungan asing, dan mencoba menyelesaikan tugasnya dengan mandiri. Bukankah ini
lebih dari sekedar juara dan mendapat piala?
Kemudian pada kasus yang lain, kita mungkin sering
meberi hadiah untuk memotivasi anak untuk melakukan suatu hal kebaikan, puasa
misalnya. Namun hal ini perlu dikurangi. Memotivasi dengan memberi hadiah hanya
akan membuat anak bertidak melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu, yaitu
untuk mendapatkan apa yang diinginkanya. Dan pada umumnya anak hanya ingin
mendpatkan benda yang sifatnya material, mainan dan uang misalnya.
Alternatif lain, cobalah memberi motivasi kepada anak
atas dasar semua perbuatan adalah untuk kebaikan diri sendiri dan atas dasar
ibadah kepada Allah.
Seperti ada sebuah cerita tentang dua orang orangtua
dan anaknya masing-masing yang melihat seorang kakek tua petugas kebersihan.
Orangtua pertama berkata pada anaknya bila si anak
tidak belajar maka dia akan menjadi seperti si kakek petugas kebersihan.
Hal berbeda diungkapkan oleh orangtua lainya, “Nak
bila kamu belajar dengan giat, kamu dapat menciptakan dunia yang lebih baik
bagi orang-orang seperti kakek itu”.
Jadi marilah sebagai orang yang lebih dewasa, kita
selalu memberi dukungan kepada anak untuk selalu membuatnya belajar tentang
kehidupan ini. Bahwa semua bukan tentang kemenangan, tetapi tentang proses
belajar agar anak mampu membuat dunia ini menjadi lebih baik. Amin ya Rabbal
alamain.
*Sebuah opini dari mantan peserta FNQ yang kini
Telah beranjak dewasa, dan menyadari bahwa
Kemenangan bukanlah segala-galanya.
-elfi husniawati-
0 komentar:
Posting Komentar