FNQ Tak Hanya Soal Kemenangan Sebuah Refleksi Bagi Kita yang Sudah Dewasa

By | 09.59 Leave a Comment
(dokumen pribadi)


Bulan Ramadhan di Kabupaten Gunungkidul rasanya tidak lengkap tanpa Festival Nuzulul Quran (FNQ) Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari ini. Festival yang diadakan setiap tahunya pada pertengahan Bulan Ramadhan ini selalu menarik animo masyarakat. Dengan berbagai inovasi dan perkembangan dari berbagai cabang lomba, antusiasme masyarakatpun juga semakin semarak.
Tahun ini Panitia Kegiatan Bulan Ramadhan (PKBR) masjid Agung Al Ikhlas membuka 32 cabang lomba untuk diperlombakan. FNQ 1438 inipun  mengusung tema Al Quran sebagai Pedoman Hidupku.

Sebagai festival Ramadhan terbesar  tingkat Kabupaten Gunungkidul, tetunya acara ini diikuti oleh santri dari hampir seluruh kecamatan di Gunungkidul. Dari mulai daerah pesisir Selatan, Timur, Barat dan wilayah pegunungan di daerah Utara, semua berpartisipasi untuk meraih kemenangan.

Semua peserta tentunya berharap untuk menang. Namun kemenangan tersebut hanya diraih oleh segelintir orang dengan simbol piala, samir dan piagam penghargaan. Bagi mereka yang belum beruntung, tentu rasa kecewa dan sedih pasti ada. Di sisi inilah peran orang dewasa sangat penting dalam pendampingan anak.

Bagi anak yang merasa kecewa dan sedih karena belum mendapatkan gelar juara, tentunya hiburan sangat diperlukan. Motivasi dari orang sekitar juga harus diberikan untuk mendorong anak agar terus berkarya. Anak harus diyakinkan bahwa juara bukan segala-galanya. Pengalaman justru lebih berharga dari sekedar piala. Melalui pengalaman anak mampu belajar dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Seperti bila anak baru pertama kalinya mengikuti lomba diusianya masih usia TK (5-7 tahun), pastinya ada rasa kekhawatiran di dalam diri anak. Entah rasa kurang percaya diri, merasa takut bila tidak didampingi, atau takut bertemu orang-orang baru di keramaian. Dengan mengikuti perlombaan ini, si anak sudah belajar untuk mampu berkompetisi, berinteraksi dengan lingkungan asing, dan mencoba menyelesaikan tugasnya dengan mandiri. Bukankah ini lebih dari sekedar juara dan mendapat piala?

Kemudian pada kasus yang lain, kita mungkin sering meberi hadiah untuk memotivasi anak untuk melakukan suatu hal kebaikan, puasa misalnya. Namun hal ini perlu dikurangi. Memotivasi dengan memberi hadiah hanya akan membuat anak bertidak melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan apa yang diinginkanya. Dan pada umumnya anak hanya ingin mendpatkan benda yang sifatnya material, mainan dan uang misalnya.
Alternatif lain, cobalah memberi motivasi kepada anak atas dasar semua perbuatan adalah untuk kebaikan diri sendiri dan atas dasar ibadah kepada Allah.
Seperti ada sebuah cerita tentang dua orang orangtua dan anaknya masing-masing yang melihat seorang kakek tua petugas kebersihan.
Orangtua pertama berkata pada anaknya bila si anak tidak belajar maka dia akan menjadi seperti si kakek petugas kebersihan.
Hal berbeda diungkapkan oleh orangtua lainya, “Nak bila kamu belajar dengan giat, kamu dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi orang-orang seperti kakek itu”.

Jadi marilah sebagai orang yang lebih dewasa, kita selalu memberi dukungan kepada anak untuk selalu membuatnya belajar tentang kehidupan ini. Bahwa semua bukan tentang kemenangan, tetapi tentang proses belajar agar anak mampu membuat dunia ini menjadi lebih baik. Amin ya Rabbal alamain.

*Sebuah opini dari mantan peserta FNQ yang kini
Telah beranjak dewasa, dan menyadari bahwa
Kemenangan bukanlah segala-galanya.
-elfi husniawati- 

0 komentar:

Posting Komentar