Terbaru

Eyga, memakai jilbab kuning

Wonosari (18/6), Salah satu cabang lomba yang dipertandingkan  dalam Festival Nuzulul Quran (FNQ) 1438 H adalah Cipta dan Baca Puisi. Mengusung Tema "Al-Quran Sebagai Pedoman Hidupku," lomba ini diikuti oleh 36 utusan TPA dan Masjid dari Seluruh Gunungkidul.

Salah satu peserta lomba, yaitu Eyga Nuraini Khoirunnisa tampak bersemangat mengikuti lomba ini. Eyga merupakan utusan yang mewakili  Masjid Baiturrahman Padangan, Kecamatan Ponjong. Dalam perlombaan ini, Eyga harus bersaing dengan 36 utusan dari masjid dan TPA seluruh Gunungkidul.

Sebelum mengikuti lomba, Eyga juga sempat berlatih membuat beberapa puisi. Latihan dilakukanya setiap hari agar hasil maksimal dicapainya. 

Eyga sangat antusias mengikuti perlombaan. Menurutnya, perlombaan ini dapat dijadikan sebagai momentum menambah pengalaman. Eyga memang sangat antusias dan tertarik dengan puisi sejak kecil, sehingga mengikuti perlombaan ini tentunya dapat semakin mengasah kemampuanya.

“Saya senang, dan semangat sekali ikut lomba ini, karena saya suka membuat puisi”. “Tolong doakan saya yaa” imbuh Eyga. 

nah untuk kawan-kawan yang ingin membaca puisi Eyga, berikut mimin cantumkan puisinya :

Al-Qur’an Mercusuar Hidupku
Oleh Eyga Nuraini K

Al-Qur’an….
Kau nafasku….
Kau pedoman hidupku….

Dalam kegelapan….
Kau berikan penerangan
Dalam kesedihan….
Kau berikan ketenangan

Ayat-ayatmu….
Membuat resahku berlalu
Membuat hati selalu rindu
Dalam malam syahdu

Teringat masa itu….
Ketika ibu mengajarkanku cara mengenalmu
Mengalunkanmu menyambut pagiku
Hingga saat cahayamu menutup malamku

Sekarang ku tahu….
Kaulah mercusuar hidupku
Kau tuntun aku melaju

Mengiringi jalan hidupku ke dermaga Jannah-Nya
assalamulaiakum kawan-kawan,
membuat Mading menjadi salah satu jenis perlombaan yang diselenggarakan dalam FNQ 1438 ini.
Dan tahukah kalian, bahwa mading-mading tersebut sangat bagus. nah untuk melihat mading-madingnya, berikut mimin kasih fotonya :)
semoga bermanfaat yaaa









(Pak Nobianto, menunjukan bahan baku pembuatan gelang,
yang didapatkanya dari Jawa Timur)

            Assalamualaikum sahabat semua.
Ada yang menarik dalam pagelaran Festival Nuzulul Qur’an 1438 H ini. Disela-sela hiruk pikuk perlombaan, mimin menjumpai sosok pejuang keluarga yang gigih. Beliau adalah bapak Nobianto, seorang penjaja gelang tali yang jauh-jauh datang dari Sodo, Paliyan. Profesi ini dilakukan lantaran adanya tuntutan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan menyekolahkan ketiga anaknya yang saat ini duduk di kelas 3 SMP, 5 SD, dan TK.

            Mata pencaharian Bapak Nobianto ini sebenarnya adalah pedagang siomay keliling yang biasa menjajakan dagangannya di sekolah-sekolah daerah Sodo, Paliyan.  Di sela-sela pekerjaan utama tersebut, beliau juga merupakan seorang buruh bangunan yang bekerja saat ada permintaan dari tetangga.

            Gelang yang dijual merupakan gelang produksi sendiri yang  pengerjaannya dibantu oleh istri dan anaknya selepas pulang sekolah. Bahan untuk membuat gelang ini diperoleh dari Yogyakarta dan Jawa Timur. Adapun omset yang di dapat sekitar Rp 50.000 per hari. Bagi sahabat yang menginginkan gelang ini selama pagelaran FNQ bisa datang ke kompleks MTs Muhammadiyah Wonosari dengan cukup merogoh kocek sebesar Rp 1.000 per gelang. Cukup murah bukan?

karya yang dijual oleh Pak Nobianto

beberapa santri berminat membeli karya Pak Nobianto


            Tak lupa Pak Nobianto juga memberikan apresiasi atas terlaksanakannya FNQ  ini. Menurutnya, acara seperti ini sangat baik. Harapannya, semangat dan kreativitas anak dapat meningkat. “Saya sangat mendukung lomba ini, anak-anak pada semangat kalau ada hadiahnya”, tuturnya.(nita/helmei).
           




Wonosari (18/6), Pembukaan Festival Nuzulul Quran 1438 H berlangsung meriah. Acara yang berlangsung di Kompleks Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari ini diikuti oleh 111 TPA dan Utusan Masjid dari seluruh Gunungkidul.

Acara dibuka sekitar pukul 08.00 pagi, dan dimulai dengan rangkaian-rangkaian untuk meningkatkan semangan anak. Salah satunya adalah berbagai tepuk seperti tepuk anak sholeh. Acara kemudian dibuka dengan lantunan AL-Quran Gema Wahyu Illahi oleh Saudari Latifa.

Menginjak acara selanjutnya, yang merupakan sambutan-sambutan yang juga membukasecara resmi FNQ 1438 H. Sambutan pertama disampaikan oleh Takmir Masjid Al Ikhlas, Bapak Iskamto. Dalam sambutanya Iskamto menyebutkan bahwa FNQ ini merupakan acara rutin, dan untuk tahun ini diikuti oleh 111 utusan TPA, dengan kurang lebih 1300 peserta lomba. “Harapanya, FNQ mampu membentuk generasi Qurani di Gunungkidul  untuk mampu mewujudkan masyarakat yang sejahtera, dan makmur.” Tutur Iskamto.

Sambutan kedua dilanjutkan oleh Bupati Gunungkidul yang tadi pagi diwakilkan kepada Drs. Bambang S. dalam sambutanya, Bambang mengungkapkan bahwa Bupati sangat mendukung pelaksanaan FNQ karena mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang Al-Quran.

Sambutan terakhir adalah dari Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang diwakilkan oleh Biro Kesra DIY, Iswantoro, SH, M.Kes. Iswantoro, SH menyampaikan agar semua muslim mampu menjadi muttaqin yang amalanya diterima oleh Allah SWT. Acarapun kemudian dibuka secara resmi dengan membaca Basmallah.


Setelah dibuka secara resmi, seuruh pesertapun kemudian menemapti ruangan masing-masing. Perlombaan segera dimulai, dengan antusiasme yang meriah dari para peserta. (elf)
(dokumen pribadi)


Bulan Ramadhan di Kabupaten Gunungkidul rasanya tidak lengkap tanpa Festival Nuzulul Quran (FNQ) Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari ini. Festival yang diadakan setiap tahunya pada pertengahan Bulan Ramadhan ini selalu menarik animo masyarakat. Dengan berbagai inovasi dan perkembangan dari berbagai cabang lomba, antusiasme masyarakatpun juga semakin semarak.
Tahun ini Panitia Kegiatan Bulan Ramadhan (PKBR) masjid Agung Al Ikhlas membuka 32 cabang lomba untuk diperlombakan. FNQ 1438 inipun  mengusung tema Al Quran sebagai Pedoman Hidupku.

Sebagai festival Ramadhan terbesar  tingkat Kabupaten Gunungkidul, tetunya acara ini diikuti oleh santri dari hampir seluruh kecamatan di Gunungkidul. Dari mulai daerah pesisir Selatan, Timur, Barat dan wilayah pegunungan di daerah Utara, semua berpartisipasi untuk meraih kemenangan.

Semua peserta tentunya berharap untuk menang. Namun kemenangan tersebut hanya diraih oleh segelintir orang dengan simbol piala, samir dan piagam penghargaan. Bagi mereka yang belum beruntung, tentu rasa kecewa dan sedih pasti ada. Di sisi inilah peran orang dewasa sangat penting dalam pendampingan anak.

Bagi anak yang merasa kecewa dan sedih karena belum mendapatkan gelar juara, tentunya hiburan sangat diperlukan. Motivasi dari orang sekitar juga harus diberikan untuk mendorong anak agar terus berkarya. Anak harus diyakinkan bahwa juara bukan segala-galanya. Pengalaman justru lebih berharga dari sekedar piala. Melalui pengalaman anak mampu belajar dan terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Seperti bila anak baru pertama kalinya mengikuti lomba diusianya masih usia TK (5-7 tahun), pastinya ada rasa kekhawatiran di dalam diri anak. Entah rasa kurang percaya diri, merasa takut bila tidak didampingi, atau takut bertemu orang-orang baru di keramaian. Dengan mengikuti perlombaan ini, si anak sudah belajar untuk mampu berkompetisi, berinteraksi dengan lingkungan asing, dan mencoba menyelesaikan tugasnya dengan mandiri. Bukankah ini lebih dari sekedar juara dan mendapat piala?

Kemudian pada kasus yang lain, kita mungkin sering meberi hadiah untuk memotivasi anak untuk melakukan suatu hal kebaikan, puasa misalnya. Namun hal ini perlu dikurangi. Memotivasi dengan memberi hadiah hanya akan membuat anak bertidak melakukan sesuatu dengan tujuan tertentu, yaitu untuk mendapatkan apa yang diinginkanya. Dan pada umumnya anak hanya ingin mendpatkan benda yang sifatnya material, mainan dan uang misalnya.
Alternatif lain, cobalah memberi motivasi kepada anak atas dasar semua perbuatan adalah untuk kebaikan diri sendiri dan atas dasar ibadah kepada Allah.
Seperti ada sebuah cerita tentang dua orang orangtua dan anaknya masing-masing yang melihat seorang kakek tua petugas kebersihan.
Orangtua pertama berkata pada anaknya bila si anak tidak belajar maka dia akan menjadi seperti si kakek petugas kebersihan.
Hal berbeda diungkapkan oleh orangtua lainya, “Nak bila kamu belajar dengan giat, kamu dapat menciptakan dunia yang lebih baik bagi orang-orang seperti kakek itu”.

Jadi marilah sebagai orang yang lebih dewasa, kita selalu memberi dukungan kepada anak untuk selalu membuatnya belajar tentang kehidupan ini. Bahwa semua bukan tentang kemenangan, tetapi tentang proses belajar agar anak mampu membuat dunia ini menjadi lebih baik. Amin ya Rabbal alamain.

*Sebuah opini dari mantan peserta FNQ yang kini
Telah beranjak dewasa, dan menyadari bahwa
Kemenangan bukanlah segala-galanya.
-elfi husniawati- 



Seperti tahun-tahun sebelumnya, PKBR Masjid AL IKhlas Wonosari mengadakan Festival Nuzulul Quran (FNQ). Acara ini diselenggarakan dalam rangkamemperimgati Nuzulul Quran. Adapun pelaksanaanya berada di kompleks masjid Agung Al Ikhlas Wonosari. Salah satu cabang lomba yang selalu menarik perhatian dan mendapatkan antusias tinggi adalah lomba mewarnai gambar.

Tahun ini lomba mewarnai gambar dibagi menjadi dua kategori. Pertama lomba mewarnai gambar untuk anak usia TK sampai dengan kelas 1 SD, dan kategori  kedua untuk anak usia kelas 2 sampai dengan  SD. Kategori tersebut kemudian masih dibagi lagi menjadi kateori laki-laki dan perempuan.


Dalam pelaksaanaanya, lomba dimulai sekitar pukul 08.30. setelah acara pembukaan selesai, satu persatu peserta mulai menempati masing-masing tempat yang telah disediakan panitia. Peserta Nampak antusias, meski perlu pendampingan dari para Remaja Masjid maupun Orang Tua. (Yen)



Wonosari (18/6), Menyemarakan pelaksanaan Festival Nuzulul Quran 1438 H di Masjid Agung Al Ikhlas Wonosari, Masjib Baiturrahman Padangan, Ponjong kirim 23 utusan. Adapun utusan-utusan tersebut mengikuti beberapa cabang perlombaan yang meliputi lomba Mewarnai Kategori Putra dan Putri Usia TK-1 SD, 2-3 SD, Menggambar Suasana TPA, Adzan dan Iqomah, Tahfidz Al-Quran, Cipta dan Baca Puisi, serta blog.

Untuk keseluruhan lomba mewarnai, Masjib Baiturrahman menerjunkan 13 utusan, kemudian menggambar 5 utusan, Adzan dan Iqomah untuk SD dan SMP 2 utusan, Tahfid 1 utusan, dan Cipta Baca Puisi 1 utusan.  Kemudian satu kelompok untuk mengikuti lomba blog masjid.

Adapun sebelum mengikuti lomba pada hari ini, Minggu, 18 Juni 2017, Remaja Masjid telah melakukan persiapan sedemikan rupa untuk melatih kesiapan para utusan. “Latihan sudah kami lakukan selama 3 hari, mulai hari Kamis, Jumat dan Sabtu,” tutur Helmei, salah satu Remaja Masjid. Helmei juga menambahkan bila pelatihan tersebut juga termasuk gladi resik agar para santri merasakan atmosfer perlombaan yang sebenarnya. “Mulai dari ukuran kertas dan waktu lomba, sudah kami atur sesui pedoman FNQ tahun ini” tambahnya.

Rombongan utusan Masjid Baiturrahman berangkat dari Padangan, Ponjong sekitar pukul 06.00 menggunakan mobil pribadi masyarakat. Merekapun berharap bahwa tahun ini ada peningkatan capaian daripada tahun sebelumnya. “Ya semoga tahun ini dapet juara dan bawa pulang piala buat mamak,” pungkas Diaz, salah satu peserta lomba mewarnai.  (elf)