 |
| Pengajian dengan media Wayang Thoklik oleh Ki Dhalang H Rahmat Mulyono |
Detik-detik tahun baru tahun ini tidak seperti biasanya. Tidak ada suara gemuruh kembang api maupun tiupan terompet yang memecah hening malam. Malam itu, seluruh warga Dusun Padangan berkumpul di halaman Masjid Baiturrahman untuk mengadakan pengajian. Sebuah cara berbeda untuk menyemarakan pergantian tahun.
Pengajian
menjelang tahun baru itu diikuti sekitar 300 warga Padangan. Sejak
setelah ba’da Isya masyarakat sudah
memenuhi halaman masjid Baiturrahman. Mereka datang bergerombol bersama sanak
keluarga dan tetangga. Sekitar pukul sembilan malam semua kursi telah penuh
terisi, bahkan lesehan tidak terelakan. Pengajianpun dimulai, dengan
pembukaan dan bacaan ayat suci Al-quran.
Ada
yang berbeda dengan pengajian menyabut tahun baru malam itu. Pengajian disampaikan
melalui media kesenian Wayang Thoklik. Pemateri pengajian saat itu adalah
Bapak H. Rahmat Mulyono, yang juga bertindak sebagai dhalang dalam
pementasan. Pak Rahmat bersama rekan-rekan kesenian Wayang Thoklik
menyampaikan materi seputar “Cakil Munggah Khaji”. Tentang bagaimana seorang
Chakil menjalani lika liku kehidupanya untuk mendapatkan berkah dan rahmat
dari Allah, dan salah satu keinginanya adalah untuk pergi berhaji.
Yang
menjadi inti dari pengajian tersebut adalah bukan mengenai prosesi ibadah
haji, melainkan apa yang dilakukan seseorang setelah mampu berhaji.
Selayaknya seseorang yang telah berhaji akan menjadi pribadi yang lebih baik,
bermanfaat bagi agama, dirinya, keluarga, masyarakat, dan bahkan dunia dan
alam semesta ini. Selain itu, pesan mengenai menjaga kerukunan dan persatuan
Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) juga menjadi isu yang disampaikan. Jangan
sampai perpecahan berdasarkan isu SARA terutamanya perbedaan suku budaya dan
agama melanda negara Indonesia ini.
Pesan-pesan
tersebut disampikan dengan lakon wayang dan iringan musik gamelan yang
dipadukan dengan thoklik bambu. Kru Wayang Thoklik juga bernyanyi lagu-lagu
yang berkaitan dengan nilai-nilai Agama Islam, lagu tombo ati misalnya.
Harapan
kedepanya, masyarakat dapat memaknai bahwa perayaan tahun baru tidak harus
dirayakan dengan foya-foya. Momen tahun baru selayaknya menjadi saat tepat
untuk mengoreksi diri sendiri tentang peristiwa setahun yang lalu. Nantinya,
semoga di tahun yang baru seseorang akan menjadi pribadi baru yang lebih baik
yang berjuang di jalan Allah untuk mendapatkan Ridho dari-Nya. (elf)
|
0 komentar:
Posting Komentar